Kamis, 22 Februari 2024

Tradisi Megengan Menjelang Bulan Suci Ramadhan

                    Megengan merupakan Salah satu Kearifan budaya lokal masyarakat Indonesia menjelang datangnya bulan Suci Ramadhan. Tradisi megengan dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut Datangnya Bulan yang Penuh dengan Keberkahan.Tradisi ini digelar untuk mengingatkan masyarakat akan datangnya bulan Suci Ramadhan. Dimana seluruh Umat Islam di wajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa. Dalam menjalankannya, Umat Islam diminta untuk menahan segala bentuk perbuatan yang membatalkan dan menggugurkan ibadah puasa. Selametan Megengan juga sebagai wujud permohonan maaf bagi sesama. Permohonan maaf dalam tradisi Jawa disimbolkan dengan Kue Apem. Istilah Apem diambil dari kata Ngafwan atau Ngafwun yang berarti permohonan maaf. Tradisi selametan megengan merupakan akulturasi Budaya Jawa dan Budaya Islam yang dilakukan oleh Walisongo saat menyebarkan Ajaran Islam di Tanah Jawa. 
                Selametan Megengan biasanya digelar pada minggu² terakhir bulan Sya'ban. Rasa Syukur dalam menyambut Bulan yang Penuh dengan Keberkahan ini diwujudkan dengan makanan yang dibuat oleh masyarakat yang kemudian dibagikan kepada orang² yang tinggal disekelilingnya. Pada Zaman dulu selametan megengan ini dilakukan oleh masyarakat di rumah masing² secara bergantian. Makanan yang disajikan pun masih sangat lengkap biasa dikenal dengan istilah Ambengan. Isi dari Ambeng seperti Seekor  Ayam yang di masak Ingkung, sambal goreng, Serundeng yang di campur dengan gorengan kacang tanah, Apem, mie dan tak lupa nasi putih dan nasi gurih. Semua masakan dibuat sendiri oleh tuan rumah, terutama Apem. Orang dahulu dalam Pembuatan kue apem memiliki suatu aturan yang harus dilakukan yaitu pembuat kue apem harus orang tua yang telah mengalami menopause atau telah berakhir masa menstruasi. Anak muda boleh membuat apem asalkan tidak di masa Menstruasi. Tak hanya itu saja, sebelum memulai memasak nasi masyarakat membakar apem dan bunga tujuh rupa. Setelah semua masakan matang, Tuan rumah mengundang para tetangga dan sanak keluarga untuk Genduren bersama yang dipimpin oleh sesepuh Lingkungan tempat tinggal. Setelah pembacaan do'a selesai, Ambengan dibagikan kepada para tamu undangan yang datang. Namun tradisi ini semakin hari sudah mulai luntur.
               Masyarakat sekarang melaksanakan tradisi selametan megengan secara massal  di masjid, mushola, langgar, majlis - majlis maupun instansi- instansi. Masakan yang disajikan pun relatif lebih simpel. Seperti Ayam goreng, sambal goreng, mie, apem, nasi putih. Nasi yang disajikan tanpa adanya nasi gurih. Selain itu makanan² yang digunakan tidak semua masakan sendiri. Begitupun dengan kue apem. Menjelang datangnya Bulan Ramadhan banyak sekali pedagang² kagetan yang menjual kue apem. Sebelum melaksanakan tradisi selametan megengan, masyarakat akan datang ke mak untuk berdo'a dan menabur bunga atau biasa dikenal dengan istilah Nyekar. 

2 komentar:

  1. Seiring perkembangan pola pikir manusia, megengan dilaksanakan di masjid. Karena faktor praktis dan tidak mendatangkan mubadzir. Tetapi, untuk ranah pembuatan apem, proses pembuatannya mayoritas masyarakat masih mempertahankan aturan2. Seperti yang boleh membuat apem adalah wanita yg sudah menopause atau wanita muda dalam keadaan suci. Biasanya sebelum membuat apem, harus keramas dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disebagian wilayah memang benar ibu masih mempertahankan tradisi aturan² dalam pembuatan apem, namun disebagian lagi sudah mulai tidak menggunakan aturan tsb. Seperti di daerah saya sudah banyak yg membeli apem...

      Hapus