Selasa, 08 Juli 2025

Ketika Hidayah Datang Menyapa

                

            Bapak meninggal memang sungguh mengagetkan banyak orang termasuk keluarganya. Namun, di satu sisi Sungguh Alhamdulillah begitu mudahnya Bapak kembali kepada-Nya. Semoga bapak meninggal dalam keadaan Husnul Khotimah. Bapak memanglah bukan orang yang ahli ibadah. Namun di sisa akhir hidupnya Alhamdulillah bapak sudah berada dijalan yang benar. Mengingat dulunya bapak termasuk orang yang tidak menjalankan ajaran Islam. Bapak jarang melaksanakan sholat lima waktu bisa dibilang bapak sholat hanya satu tahun 2 kali yakni Sholat Idul Adha dan Idul Fitri. Suka main judi, jarang ikut Jama’ah Yasinan dilingkungan tempat tinggal. Namun hal tersebut hanya berlaku untuk diri sendiri. Beliau mendidik anak dan istrinya untuk rajin melaksanakan Ajaran – ajaran Islam terutama Sholat Lima Waktu. Saya dan Ibu sudah beberapa kali mengingatkan kepada Bapak agar mau meninggalkan kegiatan-kegiatan yang dilarang dalam Ajaran namun hal itu tidak membuahkan hasil. Hanya do’a yang bisa saya dan ibu panjatkan agar bapak bisa berubah.
               Awal Tahun 2017, menjadi tahun yang bersejarah dalam keluarga saya. Kala itu saya meminta izin sekaligus meminta uang saku untuk ziarah wali Jateng bersama bude saya. Ziarah itu diadakan oleh Jama’ah Yasin Tahlil perempuan dilingkungan tempat tinggal saya, tidak hanya para ibu-ibu saja yang ikut kegiatan tersebut, para bapak-bapakpun juga banyak yang ikut. Pada saat saya minta izin dan uang saku, bapak tanyak berapa ongkos transport ziarah tersebut per orangnya. Saya kasih tau nominalnya bapak langsung tanyak ke Ibu dan menawarkan apa mau ikut ziarah Wali Jateng tersebut. Antara kaget dan tidak menyangka secara spontanitas ibu menjawab “Mau”. Tidak menyangka bapak mau ikut kegiatan semacam itu. Singkat cerita kami sekeluarga (bertiga) ikut kegiatan Ziarah ke Wali Jateng. Sebelum berangkat bapak meminta kepada ibu untuk membelikan baju koko, sarung dan surban yang berwarna putih. Berangkat ziarah memakai pakaian yang serba baru sampai-sampai sama tetangga diledekin “Enek Kaji Anyaran”. Para tetangga kaget bapak mau mengikuti kegiatan semacam itu. Dikatain seperti itu bapak cuek tidak merespon sama sekali.
                Tujuan pertama Ziarah Wali Jateng ini ke Makam Sunan Kalijaga. Berawal dari sinilah bapak mendapatkan hidayah. Pada saat Tawasulan wa Tabarukkan di Makam Sunan Kalijogo posisi duduk bapak dibelakang pas Ustad rombongan kami yakni Gus  Kholis. Mendengarkan Gus Kholis Tawasulan wa Tabarukkan hati bapak Terenyuh sampai tak terasa air mata keluar dengan sendirinya dan semakin deras. Bapak merasa memiliki dosa yang sangat banyak, telah meninggalkan Ajaran Islam selama ini, sering memberi makan anak dan istrinya dari rezeki yang tidak halal, menjadi sadar bahwa sering gagalnya dalam menjalan usaha selama ini juga karena perbuatannya.  Sepulang dari kegiatan ziarah ini hidup bapak berubah drastis. Mulai menjalankan Ajaran-Ajaran Islam terutama Sholat Lima Waktu tidak pernah beliau tinggalkan, tidak mau melakukan judi (Membeli togel). Mengetahui kondisi bapak seperti itu tidak ada kata yang bisa saya dan ibu ucapkan selain Alhamdulillah Allah telah meng ijabah do’a-do’a kami selama ini. Bersyukur bapak bisa berubah kembali mau menjalankan Ajaran-Ajarannya dan meninggalkan yang dilarang di dalam Ajaran Islam.

Selasa, 01 Juli 2025

Bagaikan Mimpi

              


     Kehilangan cinta pertama menjadi hal yang tidak pernah aku inginkan. Kehilangan seorang ayah dalam waktu yang amat sangat singkat bahkan hampir 1 tahun setelah beliau wafat masih terasa bagaikan mimpi. Sabtu malam sekitar jam 11 lebih dikit disaat aku dan suami tertidur lelap terdengar suara bude yang memanggil nama suami "Yan bapakmu piye kae piye.. bapakmu piye kae".... Seketika aku dan suami langsung bangun dan menuju ke ruang tamu di mana di malam itu bapak dan ibuk tidur di ruang tamu dikarenakan bapak mengeluh gerah dan ngajak ibu untuk tidur di ruang tamu.
             Di Ruang tamu terlihat ibu yang berada di samping bapak dan terdengar memanggil bapak di saat yang sama posisi bapak tengkurap dan kejang. Ada 3 kipas angin di dalam ruang tamu itu, satu diantaranya menghadap ke arah wajah bapak yang sedang terlelap tidur. Dipanggil tidak ada respon selama kurang lebih 3 menit an kami berusaha untuk melentangkan tubuh bapak. Postur tubuh bapak yang tinggi besar membuat kami sedikit mengalami kesusahan. Tangan yang menggenggam seketika berubah bersamaan dengan helaan nafas terakhir bapak. Pada saat itu saya, ibu, dan suami belum tersadar apabila itu momen sakarotul maut bapak. Kami masih mengira bapak masih pingsan. Suami masih memanggil mantri terdekat berharap nyawa bapak masih bisa tertolong.
           Lima menit kemudian seorang mantri datang ke rumah dan memeriksa kondisi bapak, setelah dilakukan pemeriksaan mantri tersebut mengatakan kepada kami dengan mengusap tangan ibu dan berkata "Bu engkang sabar nggeh bapak sampun mboten wonten". Mendengar perkataan tersebut, syok menghantuiku rasa tidak percaya bahwa bapak sudah tidak ada. Jeritan tangisku sejadi - jadinya malam itu sampai beberapa tetangga datang dan menenangkan aku dan suami. Kondisi ibu yang langsung pingsan karena masih belum percaya bahwa suaminya sudah tidak ada. Maut memang tidak ada yang tau kapan datang nya. Bapak yang kondisinya sehat pun ketika memang sudah waktunya Kembali, maka tidak bisa menolaknya. 
            Bapak memang memiliki sakit asam lambung namun, beberapa bulan terakhir tidak pernah mengeluh sakit bahkan dihari itu bapak tidak mengeluh apapun. Jam 10 malam bapak masih ngobrol dengan tetangga membicarakan cek sound karnaval desa serut. Sebelum akhirnya bapak tidur dan tidak bangun untuk selamanya. Tanggal 14 September 2024 malam menjadi hari yang tidak pernah aku inginkan dalam hidup harus kehilangan sosok cinta pertama dalam hidup.