Selasa, 01 Juli 2025

Bagaikan Mimpi

              


     Kehilangan cinta pertama menjadi hal yang tidak pernah aku inginkan. Kehilangan seorang ayah dalam waktu yang amat sangat singkat bahkan hampir 1 tahun setelah beliau wafat masih terasa bagaikan mimpi. Sabtu malam sekitar jam 11 lebih dikit disaat aku dan suami tertidur lelap terdengar suara bude yang memanggil nama suami "Yan bapakmu piye kae piye.. bapakmu piye kae".... Seketika aku dan suami langsung bangun dan menuju ke ruang tamu di mana di malam itu bapak dan ibuk tidur di ruang tamu dikarenakan bapak mengeluh gerah dan ngajak ibu untuk tidur di ruang tamu.
             Di Ruang tamu terlihat ibu yang berada di samping bapak dan terdengar memanggil bapak di saat yang sama posisi bapak tengkurap dan kejang. Ada 3 kipas angin di dalam ruang tamu itu, satu diantaranya menghadap ke arah wajah bapak yang sedang terlelap tidur. Dipanggil tidak ada respon selama kurang lebih 3 menit an kami berusaha untuk melentangkan tubuh bapak. Postur tubuh bapak yang tinggi besar membuat kami sedikit mengalami kesusahan. Tangan yang menggenggam seketika berubah bersamaan dengan helaan nafas terakhir bapak. Pada saat itu saya, ibu, dan suami belum tersadar apabila itu momen sakarotul maut bapak. Kami masih mengira bapak masih pingsan. Suami masih memanggil mantri terdekat berharap nyawa bapak masih bisa tertolong.
           Lima menit kemudian seorang mantri datang ke rumah dan memeriksa kondisi bapak, setelah dilakukan pemeriksaan mantri tersebut mengatakan kepada kami dengan mengusap tangan ibu dan berkata "Bu engkang sabar nggeh bapak sampun mboten wonten". Mendengar perkataan tersebut, syok menghantuiku rasa tidak percaya bahwa bapak sudah tidak ada. Jeritan tangisku sejadi - jadinya malam itu sampai beberapa tetangga datang dan menenangkan aku dan suami. Kondisi ibu yang langsung pingsan karena masih belum percaya bahwa suaminya sudah tidak ada. Maut memang tidak ada yang tau kapan datang nya. Bapak yang kondisinya sehat pun ketika memang sudah waktunya Kembali, maka tidak bisa menolaknya. 
            Bapak memang memiliki sakit asam lambung namun, beberapa bulan terakhir tidak pernah mengeluh sakit bahkan dihari itu bapak tidak mengeluh apapun. Jam 10 malam bapak masih ngobrol dengan tetangga membicarakan cek sound karnaval desa serut. Sebelum akhirnya bapak tidur dan tidak bangun untuk selamanya. Tanggal 14 September 2024 malam menjadi hari yang tidak pernah aku inginkan dalam hidup harus kehilangan sosok cinta pertama dalam hidup.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar