Terdapat tiga tingkatan dalam bahasa Jawa. Tingkatan Pertama yait krama inggil. Krama inggil merupakan sebuah tingkatan tertinggi di dalam hierarki Bahasa Jawa. Tingkatan ini dipakai ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang yang harus di hormati. Pada zaman dahulu, krama inggil digunakan oleh kalangan priyayi atau keluarga keraton yang sangat dihormati. Pada kalangan biasa krama inggil digunakan untuk berbicara dengan orang tua atau orang yang memiliki status lebih tinggi. Tingkatan Kedua di dalam bahasa Jawa yaitu Madya. Tingkatan ini biasa dikenal dengan Ngoko Alus. Madya atau ngoko alus merupakan percanpuran kromo inggil dengan ngoko sehingga di dalam tingkatan ini terdapat beberapa kata ngoko dan beberapa kata kromo. Tingkatan bahasa ini dipakai untuk berbicara dengan orang yang sudah akrab atau dengan orang yang lebih muda, orang tua, tetapi sangat akrab sekali, ngobrol bersama orang lain yang sangat dihormati. Misalnya istri kepada suami. Tingkatan Ketiga di dalam Bahasa Jawa yaitu Ngoko. Tingkatan ini merupakan tingkatan terendah di dalam hierarki Bahasa Jawa. Tingkatan ini digunakan oleh orang yang status sosialnya sama atau dari yang tinggi ke rendah. Misalnya orang tua kepada anaknya, sesama teman yang seumuran.
Bahasa Jawa yang memiliki lebih dari 80 juta penutur, saat ini termasuk bahasa yang memiliki kecenderungan sebagai bahasa yang rentan akan punah terutama pada pada sub sistem Bahasa Jawa Ragam Krama. Di zaman yang Modern seperti saat ini, bahasa yang harus dikuasai oleh seorang anak yaitu Bahasa Nasional dan Bahasa Internasional. Orang Tua masa kini tidak memikirkan berapapun biaya yang dikeluarkan agar si anak bisa menguasai Bahasa Internasional. Hal ini karena para orang tua percaya bahwa Bahasa Internasional dapat memberikan peluang lebih baik untuk kedepannya. Saat ini, sangat sedikit sekali orang tua yang menggunakan Bahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari. Anak sekarang yang fasih Bahasa Jawa Krama hanya sebatas kata Enggeh dan Mboten. Hal ini disebabkan karena motivasi mempelajari Bahasa Jawa dengan sungguh-sungguh sangatlah rendah. Anak yang fasih Bahasa Jawa dianggap culun dan tidak gaul. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab rendahnya motivasi mempelajari Bahasa Jawa. Anak mempelajari Bahasa Jawa hanya sebatas adanya kewajiban di sekolah yang mana Bahasa Jawa masuk pada kurikulum sebagai mata pelajaran Muatan Lokal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar