Di tengah hiruk pikuk masyarakat yang sedang memeriahkan dan mempersiapkan kemeriahan HUT RI ke 77, malam ini saya diingatkan oleh salah satu postingan di media sosial tentang rumah kecil sejuta kenangan ini. Rumah ini menjadi salah satu saksi bisu 6 tahun lalu dalam mewujudkan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat atau yang biasa kita kenal dengan istilah KKN. KKN menjadi momok terbesar bagi saya selama menjalani masa perkuliahan. 45 hari menjalani program ini jauh dari orang tua. Pertama kalinya dalam seumur hidup saya hidup berjauhan dari kedua orang tua. Begitupun juga kedua orang tua saya terutama ibuk, bahkan sebelum saya berangkat sempat berkata " Andaikan KKN iku Iso diganti Karo kegiatan liyo pasti awakmu tak kon milih kegiatan selain KKN". Masih sangat jelas ketika saya pamit berangkat ibuk sempat meneteskan air mata, tapi mau bagaimana pun program ini harus tetap saya jalankan.
Posko KKN yang berada di desa Kalidawe yang merupakan sebuah desa paling selatan kecamatan Pucanglaban Tulungagung menjadi kenangan tersendiri bagi kami. Satu posko yang terdiri dari 18 orang, 13 perempuan dan 5 Laki-laki.
18 orang dari berbagai jurusan yang berbeda di satukan untuk mencapai visi yang sama. Perbedaan karakter, cara pandang dan latar belakang menjadi tantangan tersendiri bagi setiap individu yang menjalaninya. Terkadang kami harus mampu meredam ego masing-masing demi terwujudnya semua tujuan yang telah di rancang dari awal. Bagi seorang mahasiswa masa KKN merupakan masa yang paling menyenangkan dan membahagiakan hal ini saya benarkan. Begitu banyak manfaat yang di dapat dari KKN. Salah satunya adalah mengetahui secara langsung potensi yang ada di desa tempat KKN. Bagi ku KKN memberikan banyak ilmu dan pelajaran hidup. Perjuangan seorang anak untuk bisa mendapatkan pendidikan yang layak, perjuangan seorang guru dalam mendidik anak-anak di desa ini dan satu hal yang sampai sekarang masih saya ingat perjuangan seorang ibu dalam merawat buah hatinya yang dalam kondisi keterbelakangan mental. Di usia yang sudah renta ibu ini harus tetap bertahan mencari nafkah untuk mencukupi keluarga nya. Hidup dengan 2 anaknya yang satu sudah menikah dan mempunyai 2 anak dan satunya dengan kondisi yang memprihatinkan, sang suami sudah meninggal 2 tahun silam.
Banyak kisah, cerita dan kebersamaan serta kekompakan dalam kegiatan KKN ini. Saya yang sebelum kegiatan ini bisa dibilang jarang banget menyentuh dapur dalam artian memasak yang memang dikarenakan tidak bisa, namun dalam kegiatan ini bisa tidak bisa harus bareng² mengerjakan pekerjaan rumah. Sistem penjadwalan dilakukan di posko kami, mulai memasak bagi perempuan, bersih²,mengajar di TPQ, mengajar les, mengajar di TK dan SD sampai penjadwalan ke Balai Desa untuk membantu pemerintahan desa. Pernah suatu ketika, waktu saya dan satu teman saya yang bernama Faizah sedang jadwalnya memasak untuk sarapan. Menu yang kami pilih kala itu sayur sop dengan lauk tahu tempe plus kerupuk. Menurut saya takaran garam yang saya masuk kan itu dikit, namun setelah dicicipi ternyata kebanyakan alias keasinan. Teman² yang lain pada bilang bahwa masakan saya keasinan tapi tetap mereka makan kok. Dari banyaknya teman hanya satu teman laki-laki yang bilang katanya masakan saya itu rasanya pas. Tahun lalu saya baru menyadari bahwa laki-laki itu ternyata yang saat ini menjadi Imam saya😃. Sungguh Skenario Allah itu di atas segalanya. Banyak sekali kenangan² indah akan makna sebuah kebersamaan yang terukit indah di dalam rumah kecil nan sederhana ini.

KKN kenangan yang lekat diingatan seumur hidup..
BalasHapusKenangan yang indah
BalasHapus