Kamis, 13 Agustus 2020

Greting Is a Prayer

 Pandangan masyarakat ketika seseorang yang lulusan Sarjana itu selalu mempunyai pekerjaan mapan ataupun kerja menjadi pegawai dengan gaji yang besar dan berbagai fasilitas yang mewah. Ketika ada tetangga, saudara yang sudah lulus Sarjana namun  belum mempunyai pekerjaan tak hayal mereka mengejek, mencela dan mencemooh. Apalagi kaum perempuan apabila telah lulus menjadi sarjana dan belum mendapatkan pekerjaan dan mengambil keputusan untuk menikah, banyak masyarakat yang mengatakan “Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya juga tetap menjadi ibu rumah tangga. Hal ini juga yang terjadi pada diriku, Tahun 2017 menjadi tahun yang paling aku tunggu selama 3,5 Tahun menempuh pendidikan di bangku perkuliahan. Pada Bulan Maret tahun 2017 saya dinyatakan lulus dari Ujian dan mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi walaupun belum secara resmi gelar itu boleh aku pakai. Satu bulan setelah ujian barulah secara resmi aku di perbolehkan menggunakan gelar yang telah aku raih. Beban berat tentu mulai aku pikul kala itu. Gelar yang telah aku miliki ini mau aku bawa kemana.

Berbagai macam group whatsapp, Group IG dan Facebook tentang lowongan kerja aku ikuti, setumpuk surat lamaran telah aku antar ke berbagai instansi sesuai dengan jurusanku, Setiap minggu aku tak luput mengujungi kantor pos hanya untuk melihat lowongan apa yang tersedia. Koran Jawa Pos yang terbit di hari sabtu menjadi langgananku kala itu. Harapan demi harapan agar aku bisa segera mendapatkan pekerjaan dan tidak menjadi pengangguran lagi. Perkataan para tetangga dan orang-orang menjadi motivasi tersendiri bagiku untuk terus berusaha mencari kerja. Perbedaan cara pandang di keluarga besar terutama di keluarga ayah yang tidak begitu mengepentingkan pendidikan menjadikan beban tersendiri bagiku. Namun aku sangat yakin Bahwa Allah selalu memberikan jalan keluar bagi hambanya yang mau berusaha. Pelatihan dan bursa kerja yang diadakan oleh Depnaker juga selalu menjadi incaranku. Dukungan kedua orang tua dan keluarga besar dari ibu yang selalu menjadikan ku kuat dan sabar dalam menanti hadirnya suatu pekerjaan.

Satu minggu menjelang wisuda, aku mendapatkan informasi bahwa di kota patria sedang diadakan bursa kerja dari berbagai instansi keuangan dan perusahaan. Bursa kerja di adakan oleh Depnaker Kota Blitar yang diselenggarakan di gedung balai kota Patria. Ada beberapa instansi keuangan yang mengikuti kegiatan bursa kerja yang memberikan daya tarik sendiri bagiku dan berharap aku bisa bergabung di salah satu instansi keuangan tersebut. Bersama 8 orang teman satu jurusan aku melihat kegiatan bursa kerja di kota patria dengan membawa surat lamaran kerja. Saat itu kami sepakat untuk berangkat ke kota patria pada pukul 08.00 WIB dan sepakat berkumpul di depan kampus. Di sela-sela menunggu teman yang lain, aku yang kala itu datang duluan dan disusul oleh satu teman saya menunggu teman-teman lain. Setiap orang terlahir dengan berbagai macam karakter, sifat dan kepribadian masing-masing. Di waktu menunggu itu teman saya yang mempunyai sifat kepo yang tinggi terhadap kehidupan orang. Teman saya itu sebut saja bernama Sulton. Dia bertanya kepada saya “kik gimana sudah dapat pekerjaan di mana?” mendengar pertanyaan Sulton tersebut terbesit tanda Tanya di otak saya. “Orang ini memang beneran belum tau atau gimana ya?” Kalau saya sudah mendapatkan pekerjaan secara otomatis aku tidak ikut mereka semua melihat bursa kerja. Namun kala itu aku hanya menanggapinya dengan santai “Aku sudah melamar pekerjaan di SMP Al Azhaar menjadi seorang Staf Tata Usaha dan dua minggu setelah di wisuda aku sudah mulai bekerja”. Jawaban aku pada Sulton itu hanya jawaban spontanitas, pada saat itu saya belum sama sekali melamar pekerjaan di SMP Al Azhaar.

Waktu berjalan begitu cepat kegiatan melihat bursa di kota patria tanpa membuahkan hasil. Tak ada instansi yang aku masukin surat lamaran kerja. Instansi yang dulunya aku tertarik, membuka lowongan kerja dan di tempatkan di kota yang lain. Harapan untuk mendapatkan suatu pekerjaan tidak pupus hanya karena beberapa ikhtiar yang belum bisa terwujud. Dua minggu setelah acara wisuda, sahabatku menghubungiku dan memberitahukan bahwa di SMP Al Azhaar sedang membutuhkan lowongan kerja menjadi seorang staf Tata Usaha. Malam harinya setelah mendapatkan kabar dari sahabatku, aku langsung membuat surat lamaran kerja. Keesokan harinya dengan di antar sahabat karib ku surat lamaran kerja aku antar di SMP Al Azhaar dan di terima dengan baik oleh Ibu Kepala Sekolah. Pada pukul 18.00 di hari yang sama aku mengantarkan surat lamaran, aku mendapat whatsapp yang menyatakan panggilan bagiku untuk mengikuti interview ke esokan harinya. 

Hari kamis tanggal 18 Mei 2017 dengan semangat yang sangat membara aku datang di SMP Al Azhaar untuk mengikuti interview. Alhamdulillah interview berjalan dengan lancar dan saya di terima sebagai staf Tata Usaha dan di hari itu juga saya sudah mulai bekerja dengan status sebagai staf observasi. Rasa Syukur tak henti-hentinya aku panjatkan. Dua bulan menjadi seorang pengangguran menjadi beban tersendiri bagiku namun  di hari itu terjawab sudah do’a-do’aku selama ini. Berbagai banyak pengalaman dan ilmu baru aku dapatkan selama menjadi seorang staf tata usaha. Di bulan ke 16 menjadi staf tata usaha saya memutuskan untuk melanjutkan studi Program Magister Ekonomi Syariah, tentu dengan seiizin Ibu kepala sekolah dan Yayasan. 

Awal memasuki perkuliahan aku di Tanya sama Bapak Ketua Jurusan Ekonomi Syariah tentang pekerjaanku. Aku menjawab “saya bekerja sebagai staf tata usaha di salah satu SMP Swasta di Kabupaten Tulungagung. Kala itu beliau menjawab tidak ada apa-apa sekarang menjadi staf TU nanti habis ini menjadi Guru dan setelahnya menjadi dosen yang penting harus telaten. Satu semester menjalani hari demi hari sebagai seorang pelajar dan pekerja membuat stamina tubuhku menurun drastis. Beberapa kali menjalani rawat inap karena kecapean membuatku untuk memutuskan suatu resign dari SMP Al Azhaar. Keputusan ini sangat berat aku lakukan, mengingat setelah ini aku kembali menjadi seorang pengangguran. Satu hal yang aku bilang sama orang tua kala aku memutuskan keputusan besar itu “ Aku di tawari pekerjaan menjadi guru SMK di Yayasan teman lamaku”, Kata itu yang ucapkan di hadapan kedua orang tuaku dan meminta do’a supaya di terima. Padahal kala itu sama sekali belum ada tawaran pekerjaan kepada saya.

Satu minggu setelah aku resmi resign, di waktu menunggu jam perkuliahan di kantin kampus aku bertemu dengan teman lama dan menceritakan kondisi saya saat itu. Alhamdulillah saya kembali mendapatkan kabar gembira bahwa teman saya tersebut mempunyai yayasan dan pada jenjang SMK sedang membutuhkan guru produktif perbankan syariah. Ke esokan harinya Surat lamaran kerja saya antar dan Alhamdulillah saya langsung di terima menjadi seorang guru Produktif Perbankan Syariah.

Kejadian tersebut menyadarkanku bahwa terkadang seseorang tidak menyadari akan sebuah ucapan yang dilontarkan. Sejatinya setiap ucapan yang keluar bisa berbuah menjadi kenyataan. Seperti pepatah mengatakan bahwa setiap kata yang terucap merupakan sebuah do'a yang terlantunkan... 

2 komentar: